Main Article Content

Abstract

Salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi di dunia adalah hipertensi. Selain menggunakan pengobatan konvensional, penatalaksanaan hipertensi dapat ditangani dengan jamu. Penelitian  bertujuan memeroleh gambaran penggunaan, persentase keberhasilan terapi dan jenis kelamin serta frekuensi terapi, dengan keberhasilan terapi ramuan jamu antihipertensi di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus. Desain penelitian menggunakan potong lintang dengan rancangan observasional deskriptif. Observasi dilakukan pada data sekunder berupa rekam medik. Ramuan antihipertensi yang digunakan di RRJ periode Januari-Juni 2017 adalah ramuan I terdiri dari tanaman obat Apium graveolensCentella asiaticaOrthosiphon stamineus dan Imperata cylindrica dengan 70 resep (70%). Ramuan II terdiri dari Apium graveolensCentella asiaticaOrthosiphon stamineus‚ dan Imperata cylindrica dan Sonchus arvensis dengan 20 resep (20%). Ramuan III terdiri dari Apium graveolensCentella asiatica dan Orthosiphon stamineus dengan 10 resep (10%). Persentase keberhasilan terapi  ramuan jamu 1‚ 2‚ dan 3 berturut-turut adalah 80%‚ 60%‚ dan 50%. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi adalah jenis kelamin dan frekuensi terapi. Jenis kelamin tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan keberhasilan terapi hipertensi dengan nilai p=0‚705 (p>0‚05)‚ dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 1‚151.  Faktor frekuensi terapi juga tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan keberhasilan terapi hipertensi dengan nilai p=0‚420 (p>0‚05)‚ dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3‚421.

Keywords

Hipertensi Jamu RRJ Hortus Medicus

Article Details

How to Cite
Ardiyanto, D., & Friska Dewi, T. (2019). Analisis Ramuan Jamu Antihipertensi di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus Tawangmangu Periode Januari-Juni 2017. Jurnal Jamu Indonesia, 4(2), 42-47. https://doi.org/10.29244/jji.v4i2.128

References

  1. Anonim. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. 47-48. Jakarta (ID): Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
  2. Anonim. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta (ID): Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. Chairul SM, Sumarny R, Chairul. 2003. Aktivitas antioksidan ekstrak air daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) secara in vitro. Majalah Farmasi Indonesia. 14(4): 208-215.
  4. Cryer MJ., Horani TT, DiPette DJ. 2016. Diabetes and hypertension: a comparative review of current guidelines. The Journal of Clinical Hypertension. 18(2): 95-100.
  5. Feldman RD, Zou GY, Vandervoort Margaret K, Wong CJ, Nelson, SA, Feagan, BG. 2009. A simplified approach to the treatment of uncomplicated hypertension. American Heart Association Journals. 53: 646-653.
  6. Guyton AC, Hall JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11, 67. Jakarta (ID): EGC Medical Publisher.
  7. Hashim P, Sidek H, Helan MH, Sabery A, Palanisamy UD, Ilham M. 2011. Triterpene composition and bioactivities of Centella asiatica. Molecules. 16: 1310-1322.
  8. James PA, Oparil S, Carter BL, Crushman WC, Himmelfarb CD, Handler J, Lackland T, LeFevre MT, MacKenzie TD, Ogedegbe O, Smith Jr SC., Svetkey LP, Taler SJ., Townsend RR, Wright Jr JT, Narva, AS, Ortiz E. 2014. Evidence-based guideline for the management of high blood pressure in adults. The Journal of the American Medical Association. 311(5); 507-520.
  9. Purwaningsih EH. 2013. Jamu, obat tradisional asli Indonesia pasang surut pemanfaatannya di Indonesia. eJKI. 1(2): 85-89.
  10. Yuliana NC, Khatib A, Link-Struensee AMR, Ijerman AP, Rungkat-Zakaria F, Choi YH, Verpoorte R. 2009. Adenosine A1 receptor binding activity of methoxy flavonoids from Orthosiphon stamineus Benth. Planta Medicine. 75: 132-136.
  11. Zhang YH, Park YS, Kim TJ, Fang LH, Ahn HY, Hong JT, Kim Y, Lee CK, Yun YP. 2002. Endothelium-dependent vasorelaxant and antiproliferative effects of apigenin. General Pharmacology. 35(2002): 341-347.